Perkuat Konsolidasi Demokrasi, Bawaslu dan Wakil Wali Kota Solok Soroti Kerentanan Pemilih Pemula
|
solokkota.bawaslu.go.id- SOLOK – Menyongsong dinamika politik yang terus berkembang, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Solok menggelar pertemuan dengan Wakil Wali Kota Solok, H. Suryadi Nurdal, SH. Pertemuan yang berlangsung hangat di ruang kerja Wakil Wali Kota pada Jumat (5/6/2026) dalam rangka dalam mempererat silaturahmi sekaligus melakukan konsolidasi demokrasi.
Selain sebagai ajang silaturahmi pasca-dilantiknya Suryadi Nurdal sebagai Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Pramuka Kota Solok, yang berkaitan erat dengan sinergi Satuan Karya (Saka) Adyasta Pemilu—pertemuan ini juga membedah berbagai isu pemilu hangat yang tengah bergulir di tingkat nasional maupun daerah.
Salah satu poin krusial yang menjadi sorotan utama dalam diskusi tersebut adalah nasib dan keterlibatan pemilih pemula di Kota Solok. Wakil Wali Kota Solok, Suryadi Nurdal, mengungkapkan bahwa kelompok ini memiliki jumlah yang cukup signifikan namun berada dalam posisi yang rentan.
"Tantangan kita ke depan adalah keikutsertaan pemilih pemula di Kota Solok. Jumlah mereka yang baru memiliki hak pilih ini cukup banyak, namun mereka sangat rentan dalam menghadapi proses pemilihan," ujar Suryadi.
Ia juga menambahkan bahwa rendahnya tingkat partisipasi pemilu saat ini menjadi pekerjaan rumah (PR) besar karena akan sangat menentukan arah dan kualitas demokrasi di Kota Solok ke depan.
Merespons tantangan tersebut, Bawaslu Kota Solok telah menyiapkan sejumlah langkah taktis melalui pengawasan partisipatif. Fokus utamanya adalah menggandeng generasi muda lewat program Pendidikan Pengawas Partisipatif (P2P) serta sosialisasi masif ke tingkat sekolah.
Tidak hanya menyasar siswa sekolah, Bawaslu juga aktif membuka ruang diskusi dengan organisasi mahasiswa dan kepemudaan. Langkah ini diambil agar gen-Z dan milenial di Solok tidak hanya menjadi penonton, melainkan "melek" politik dan mampu beradaptasi dengan cepatnya arus digitalisasi.
Suryadi sangat mendukung penuh adanya pendidikan politik yang terstruktur bagi para mahasiswa dan aktivis muda. Menurutnya, seluruh elemen—baik Bawaslu maupun partai politik—harus turun tangan membangun pemahaman politik yang sehat.
"Kita perlu mengedukasi adik-adik mahasiswa untuk membangun pengetahuan politik mereka. Perlu ada kejelasan dalam memilah informasi, mana isu nasional yang benar dan mana yang merupakan disinformasi atau hoaks di media sosial," tegasnya.
Berkaca dari pengalaman politiknya yang panjang pasca-Reformasi, Suryadi Nurdal mengakui bahwa dinamika pemilu selalu berubah secara dinamis. Ia tidak menampik adanya realitas politik pragmatis yang sempat mewarnai pencalonan kepala daerah pada periode-periode sebelumnya.
Oleh karena itu, Suryadi berharap pendidikan politik dan aktivitas organisasi yang sehat bisa menjadi benteng utama. Ia mendorong aktivis muda di Kota Solok untuk berani terjun ke dunia politik dengan cara yang baik dan berintegritas guna membawa perubahan positif bagi dinamika demokrasi daerah.
Penulis : Ardi
Foto: Yopi
Editor: Meisarah Marsa